Inti iblis plutonium adalah nama yang diberikan kepada sebuah bola plutonium yang digunakan dalam eksperimen nuklir selama era Proyek Manhattan. Nama ini berasal dari serangkaian insiden fatal yang melibatkan bola plutonium tersebut. Artikel ini akan menjelaskan sejarah inti iblis plutonium, detail eksperimen yang dilakukan, insiden yang terjadi, dan dampaknya terhadap ilmu pengetahuan serta keselamatan nuklir.
Sejarah dan Latar Belakang
Proyek Manhattan adalah program penelitian dan pengembangan yang dipimpin oleh Amerika Serikat selama Perang Dunia II, dengan tujuan utama untuk menghasilkan bom atom. Pada tahun 1945, dua bom atom berhasil dijatuhkan di Hiroshima dan Nagasaki, yang secara efektif mengakhiri perang. Namun, eksperimen dan penelitian terus berlanjut untuk memahami lebih lanjut tentang reaksi nuklir dan potensi senjata masa depan.
Inti iblis adalah bola plutonium dengan berat sekitar 6,2 kilogram dan diameter sekitar 8,89 cm. Bola ini terdiri dari isotop plutonium-239 yang sangat reaktif dan dapat mencapai keadaan kritis (criticality), di mana reaksi berantai nuklir yang tak terkendali bisa terjadi, menghasilkan radiasi mematikan.
Insiden Pertama
Insiden pertama terjadi pada 21 Agustus 1945, ketika fisikawan Harry Daghlian melakukan eksperimen di Los Alamos National Laboratory. Daghlian menumpuk batu bata tungsten-karbida di sekitar inti plutonium untuk mencapai kondisi kritis. Tanpa sengaja, dia menjatuhkan satu batu bata tambahan, menyebabkan inti menjadi superkritis. Daghlian segera membongkar susunan batu bata, tetapi ia terkena dosis radiasi mematikan. Dia meninggal 25 hari kemudian akibat keracunan radiasi akut.
Insiden Kedua
Insiden kedua terjadi pada 21 Mei 1946, melibatkan fisikawan Louis Slotin. Slotin sedang melakukan eksperimen yang dikenal sebagai “tickling the dragon’s tail” (menggelitik ekor naga), di mana ia menumpuk dua setengah bola berilium di sekitar inti plutonium menggunakan obeng sebagai pengganjal. Saat obeng terpeleset, setengah bola berilium tersebut jatuh dan menyebabkan inti menjadi superkritis. Slotin segera menghentikan reaksi dengan melemparkan bola berilium, tetapi ia terkena dosis radiasi yang mematikan dan meninggal sembilan hari kemudian.
Insiden-insiden ini menyoroti bahaya eksperimen nuklir dan mendorong perubahan besar dalam prosedur keselamatan laboratorium. Setelah kematian Daghlian dan Slotin, protokol keselamatan diperketat, dan eksperimen manual dengan bahan fisil dihentikan. Para ilmuwan kini menggunakan perangkat mekanis yang dikendalikan dari jarak jauh untuk meminimalkan risiko paparan radiasi.
Inti iblis plutonium adalah bagian penting dari sejarah nuklir dan mengajarkan kita tentang bahaya serta tanggung jawab yang terkait dengan penelitian nuklir. Dua insiden fatal yang melibatkan inti ini mengingatkan kita tentang pentingnya keselamatan dalam eksperimen ilmiah, terutama ketika berurusan dengan bahan berbahaya. Meskipun telah berlalu lebih dari tujuh dekade, pelajaran dari insiden ini tetap relevan dalam konteks modern, baik dalam bidang penelitian nuklir maupun keselamatan laboratorium secara umum.
