Kita dulu pernah di ajarkan di SD bahwa planet itu ada sembilan dan planet kesembilan tersebut adalah pluto. Planet kecil yang terletak jauh terasing di ujung tata surya. Namun pada saat kamu sudah menginjak SMP dan mempelajari hal yang sama. Kamu melihat bahwa planet di Tata Surya hanya tersisa delapan. Lalu ke manakah perginya pluto? Apakah planet kecil tersebut sudah hancur atau dia pergi keluar dari Tata Surya? Namun kamu baru mendapatkan jawabannya ketika SMA. Ternyata pluto yang dulu di anggap planet, sekarang bukan lagi bagian dari keluarga planet. Pada tanggal 24 Agustus 2006, Uni Astronomi Internasional (IAU) melakukan klasifikasi ulang tentang kriteria planet dalam tata surya. Maka para ilmuan secara resmi mencoret pluto dari kartu keluarga planet di Tata surya. Uh, sedihnya. Jangan menangis ya pluto.
Setelah pertanyaanmu tentang pluto terjawab. Terbitlah lagi satu pertanyaan yang membuat dirimu penasaran? Apakah planet di Tata Surya hanya sampai delapan? Apakah masih ada planet setelah Neptunus. Kemudian kamu mulai menyelidiki tentang planet kesembilan dan kamu berhasil menemukan hal menarik tentang itu.
Mari kita akan pergi jauh ke orbit Neptunus. Di sini terdapat sebuah wilayah yang dimulai dari sekitar orbit Neptunus hingga jauhnya sampai dengan jarak 50 AU dari matahari. Wilayah ini disebut dengan Sabuk Kuiper atau Kuiper Belt. Objek-objek yang terdapat di dalam sabuk tersebut, disebut sebagai objek trans-Neptunus. Pada tahun 2015 ilmuwan dari Clifornia Institute of Technology yang bernama Mike Brown dan Konstatin Batygin. Mereka menemukan beberapa objek kecil di sabuk kuiper memiliki orbit yang unik. Objek tersebut memiliki arah orbit yang berkebalikan dengan seluruh benda antariksa yang ada di Tata surya. Mereka kebingungan akan hal ini, dan mulai mencari jawaban atas hal tersebut. Satu-satunya hal yang dapat menjelaskan peristiwa aneh tersebut hanyalah terdapat sebuah objek besar yang mempengaruhi pergerakan objek-objek tersebut. Dari kesimpulan tersebut, muncullah sebuah teori yang menyatakan keberadaan planet kesembilan untuk pertama kalinya.
Untuk mempengaruhi objek-objek tersebut, diperkirakan planet ini memiliki orbit sekitar 20 kali lebih jauh dari matahari atau sekitar 90 miliar kilometer dari matahari. Dengan jarak sejauh itu maka planet ini akan mendapatkan julukan sebagai planet terjauh di Tata surya. Karena jaraknya yang super jauh itu, membuat planet ini akan membutuhkan waktu 10.000 sampai 20.000 tahun bumi untuk memutari matahari. Ini jauh lebih lama dari planet Neptunus yang membutuhkan waktu 165 tahun bumi.
Planet ini juga diperkirakan akan memiliki ukuran 10 kali bumi dan 5000 kali lebih luas dari pluto. Dengan ukuran yang serupa dengan Uranus serta Neptunus, maka planet ini nantinya juga akan berbentuk bongkahan es raksasa. Jika kalian mengira para ilmuwan sudah menemukan planet kesembilan, jawabannya adalah belum. Semua yang kalian baca tadi baru sekedar pemodelan matematika yang disimulasikan dalam komputer mengenai planet sembilan. Sampai sekarang belum ada satu orang pun yang berhasil melihat raksasa es tersebut.
Baca juga : Dari mana ilmuwan mengetahui inti bumi itu padat?
Para ilmuwan sudah melakukan berbagai usaha untuk menemukan planet tersebut menggunakan teleskop inframerah. Namun planet kesembilan masih tidak bisa ditemukan. Karena hal tersebut maka muncullah sebuah teori baru. Bagaimana kalau sebenarnya planet kesembilan tersebut tidak pernah ada. Lalu bagaimana kita menjelaskan keanehan objek di sabuk kuiper tersebut? Planet kesembilan mungkin saja tidak pernah ada, namun ada sebuah lubang hitam kuno yang menggantikan posisi planet tersebut.
Apa ada lubang hitam di Tata surya kita?
Jangan panik begitu. Lubang hitam ini tidak akan membuat kacau balau Tata surya kita. Lubang hitam ini diperkirakan hanya memiliki ukuran 5 sampai 10 kali masa bumi. Lubang hitam mini ini disebut dengan nama lubang hitam primordial. Lubang hipotesis ini terbentuk sesaat setelah ledakan big bang terjadi. Sehingga lubang hitam ini memiliki ukuran yang kecil, sebab semakin lama sebuah lubang hitam terbentuk setelah big bang, maka ukuran mereka akan semakin besar. Para ilmuwan mencoba melakukan permodelan dengan komputer mengenai lubang hitam di ujung tata surya kita ini. Hasilnya benar-benar cocok dengan apa yang terjadi dengan objek-objek di sabuk kuiper. Saking cocoknya, hal ini tidak bisa dikatakan sebagai sebuah kebetulan belaka. Jika memang benar di ujung tata surya kita terdapat sebuah lubang hitam primordial. Maka semuanya akan menjadi jelas. Tentang kenapa kita tidak pernah bisa menemukan planet kesembilan? Sekaligus juga menjawab pertanyaan kita tentang lubang hitam primordial yang misterius.
Walau pada saat ini kita sama sekali belum bisa membuktikan objek apa yang mempengaruhinya. Setidaknya kita tahu ada sesuatu hal yang menarik yang menanti kita diujung tata surya.
Sekian, terima kasih

[…] Baca juga : Kenapa kita belum pernah menemukan planet kesembilan? […]
Greetings! Very helpful advice in this particular article! Its the little changes that make the biggest changes. Many thanks for sharing!